Menurut Data Google Selama Bulan Ramadhan Pengeluaran Masyarakat Naik 30%

Posted on

Google Indonesia kembali melaunching data baru berkaitan tingkah laku customer Indonesia sepanjang Ramadan. Sepanjang periode ini, orang-orang Indonesia banyak menggunakan saat untuk belanja. Berdasar pada data Asosiasi Entrepreneur Ritel Indonesia, angka pengeluaran naik 30% sepanjang bln. puasa th. kemarin.

Hengky Prohatna, Head of e-commerce Google Indonesia menyebutkan, mengkonsumsi tertinggi berlangsung sepanjang bln. ramadan. Dia juga menuturkan kalau mendekati Lebaran, orang-orang yang lakukan pencarian product lewat Google bertambah sebesar 28%. Sekitaran 80% salah satunya di akses lewat hp.

Menurut Data Google Selama Bulan Ramadhan Pengeluaran Masyarakat Naik 30%

erdasarkan data Google Indonesia, beberapa produk yang sering di cari mendekati bln. ramadan yaitu pencarian promo kartu credit, perlengkapan memasak, telepon genggam paling baru, baju-baju untuk Lebaran, sampai product kecantikan.

“Yang terutama yaitu bagaimana kami bisa temukan serta memakai kesempatan sepanjang bln. suci Ramadan, ” terang Henky Prihatna dalam tayangan pers, Selasa (23/05).

Transaksi e-commerce di Indonesia tidak ada yang menggunakan Bitcoin

Asosiasi yang menaungi aktor e-commerce di Indonesia yang hampir semuanya sudah dilengkapi dengan cek resi, idEA, melihat mata uang digital bitcoin jadi satu diantara demikian bentuk perubahan tehnologi yang demikian cepat. Tetapi, sampai hari ini, mereka belum juga merasakan aktivitas transaksi e-commerce yang pembayarannya menggunakan bitcoin.

” Selama ini, semuanya transaksi yang dikerjakan di e-commerce, terutama anggota idEA, semuanya memakai mekanisme pembayaran yang available saat ini, ” kata Ketua Umum idEA, Aulia E Marinto, waktu terlibat perbincangan dengan Kompas. com pada Kamis (7/12/2017) malam.

Aulia menerangkan, mekanisme pembayaran yang disebut yaitu lewat product service perbankan ataupun service keuangan berbasiskan tehnologi (financial technology/fintech). Mengenai fintech yang digunakan untuk bertransaksi di e-commerce tidak termasuk juga dengan bitcoin, tetapi seperti e-wallet ataupun service angsuran tanpa ada kartu credit.

Menurut Aulia, banyak pekerjaan tempat tinggal yang perlu dibicarakan pihaknya dengan pemerintah untuk membereskan serta mengatur aktivitas e-commerce di Indonesia.

Tentang hadirnya bitcoin, Aulia mengakui belum juga mengerti dengan baik hingga dia pilih untuk konsentrasi pada apa yang tengah ditangani sekarang ini, terutama kajian pajak e-commerce dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.

” Belum juga usai kita dengan fundamental, telah ada yang baru. Pasti, juga akan ada pro serta kontra. Saya belum juga baca benar apakah itu bitcoin, tapi dari mereka yang bergerak serta mencermati disana katakan ini bagus, tapi di bagian beda meneror, ” papar Aulia.

Terlebih dulu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyebutkan melarang transaksi e-commerce di Indonesia memakai bitcoin. Argumennya, pemakaian bitcoin dipandang masih tetap rawan, buka kesempatan untuk pencucian uang, sampai pendanaan tindak terorisme.

Larangan bitcoin juga mempunyai tujuan melindungi kedaulatan rupiah jadi alat pembayaran yang sah di Indonesia. Larangan bitcoin dari BI di dukung penuh oleh Menteri Komunikasi serta Informatika Rudiantara.